Bonestown*

“Kau lihat ini?”

Aku memalingkan wajah pada Ernesto. Sontak memicing.

Anak itu sedang meringis. Memamerkan barisan giginya. Salah satunya bergerak-gerak karena didorong dengan lidah. Aku mengernyit resah. “Ini sudah hari ketiga kau melakukannya. Lakukan sekali lagi maka akan kutarik gigimu itu.”

Ernesto berhenti dan menyeringai. “Tapi aku senang,” jawabnya membela diri. Dengan lengan baju dia menghapus lelehan ingus yang kini berkilat di pipinya. Aku bergidik dan mengembalikan pandangan pada buku di pangkuan. Ernesto gantian memperhatikanku, “Kau belum selesai membacanya?”

Aku menggeleng. “Besok pasti selesai.”

Dari sudut mata kulihat Ernesto sudah hampir membuka mulut ketika terdengar sirene mengaum. Sigap kami mendengarkan.

Satu. Kelas selesai dan pulang ke rumah.

Dua. Berkumpul untuk mendengarkan ceramah.

Tiga. Berkumpul untuk bertemu Father Bones.

Empat.

Serentak aku dan Ernesto berpandangan. Tak pernah terdengar sirene empat kali sebelumnya. Kami sama-sama tak tahu maknanya. Pelan aku berdiri, meluruskan punggung. Mengintip dari balik daun jendela.

Kami berdua sedang bolos dari kelas Geografi. Mrs. Ruletta meninggalkan kami siswa kelas tiga setumpuk tugas mencatat yang membosankan sementara dia memompa susu untuk bayinya di ruangan guru. Namun aku dan Ernesto memilih untuk tidak melakukannya dan bersembunyi di gudang jerami yang sudah tak terpakai. Aku beralasan perlu membaca buku yang akan habis masa peminjamannya esok, sedang Ernesto tanpa pikir panjang setia jadi budak bayanganku. Beberapa siswa lain juga melakukan hal yang sama. Hanya saja aku tak tahu mereka kabur ke mana.

Terlihat barisan warga camp menuju aula, baik yang masih berpakaian kerja pabrik maupun ladang. Sisanya terlihat bergegas setelah merapatkan pintu dan jendela. Paras mereka serupa. Bingung. Tak terdengar bicara. Hanya langkah kaki terseret kaku di setapak yang berdebu. Aku menimbang untuk menyelinap di antara mereka, namun itu berarti ketahuan telah bolos dan artinya bencana.

“Kurasa kita menunggu di sini sebentar.”

Ernesto tak membantah. Bisa kulihat bibir atasnya menyembul-nyembul. Dia masih mendorong giginya. Aku mengaduk isi saku. Kukeluarkan seutas benang, sisa kelas menjahit tadi pagi, menyodorkannya pada Ernesto.

“Apa ini?”

“Cabut gigi itu atau kupukul dengan buku. Tunggu di sini, aku duluan.”

Ernesto mengangguk. Dia sedang berkutat menalikan benang pada giginya.

“Sampai jumpa di aula,” aku membuka pintu dan menyelinap keluar.

Sudah seminggu ini suasana camp memang terasa berbeda. Tepatnya, semenjak kedatangan para anggota kongres. Bibi Antonia menyampaikannya padaku saat makan malam beberapa hari yang lalu. Katanya, anggota kongres mendapat laporan tentang aktivitas penyembahan yang sudah di luar batas wajar. Anggota kongres meminta Father Bones untuk menutup kegiatan sekte dan kembali pada kehidupan yang normal. Tentu semua itu disampaikan secara tak langsung; Bibi sedang berbincang dengan Paman Albert. Aku terbiasa menguping sambil memasang wajah kenyang; mereka tak pernah curiga.

Menyelinap di antara segerombolan siswa yang sudah datang, aku merapikan pakaian. Menepuk-nepuk bagian rok yang berdebu. Kemudian seseorang menarik lenganku.

Bibi Antonia.

Aku tersenyum padanya. Wanita itu tak membalas. Dia hanya mendorongku untuk berdiri tegap di depannya.

Berbaris. Kami memasuki aula.

Father Bones berdiri di depan mimbar. Cahaya satu-satunya di aula menaunginya. Kulihat wajahnya tenang. Bahkan, terlalu tenang. Seperti biasa, pandangannya menyapu kami. Kanan ke kiri. Depan ke belakang. Memastikan kehadiran.

Lalu kenapa sirine berbunyi empat kali?

Jauh di belakangku, pintu aula ditutup satu-satu. Total ada lima pintu.

Kesunyian merayap, terbanting oleh bunyi papan beradu dan klik mengunci yang padu.

Aku menarik napas gelisah. Masih terdorong dalam barisan yang mengayun pelan mendekati garis terdepan. Telapak tanganku basah. Aku menyapukannya di sela buku. Melipat halaman terakhir yang tadi belum sempat kutandai.

“Saudaraku…”

Suara Father Bones mengalun lembut.

Halus.

Sesekali terdengar serak saat dia mengakhiri kalimat.

Seakan sedang menahan tangis.

Namun wajahnya tetap tenang.

“… telah banyak yang kulakukan untuk memberikan hidup yang lebih baik untuk kalian semua, namun apalah daya, dengan perkembangan akhir-akhir ini, semua itu terasa sia-sia. Kita dihadapkan pada pilihan yang sempit…”

Dengung mulai menggaung. Bisik turut gemerisik.

“… saat ini juga mereka sudah mendekat. Mereka menganggap apa yang kita yakini ini salah dan berbahaya. Kedatangan mereka tak membawa apa-apa selain kematian. Inginkah kalian menyerahkan anak-anak kalian pada mereka?”

Gelengan terlihat di mana-mana. Seakan kami semua robot yang terprogram sama. Di belakangku, Bibi Antonia menarik bahuku mendekat. Aku merasakan kehangatan tubuhnya yang nyaman; aroma keringat kering bercampur potongan daun jagung. Aku meremas tangan di bahuku itu sekilas.

“… lakukan ini, maka kalian akan bebas. Tak perlu menangis, Saudaraku, Anak-anakku. Tak perlu menangis. Tak ada kebahagiaan tersisa untuk kita…”

Aku menundukkan kepala, mengintip tiga lembar terakhir buku di tanganku.

“… kita telah lelah. Kita telah berusaha. Dan kita telah lelah. Maka kita meninggalkan kelelahan di belakang kita…”

Aku memanjangkan leher ketika kudengar langkah kaki menapaki podium.

Mrs. Ruletta.

Dia memeluk bayinya.

Seseorang di samping Father Bones menyodorkan gelas dan sedotan kecil. Sebelumnya, dia mendekatkan pipet pada mulut bayi dalam gendongan. Dua orang lainnya segera merapat dan melindungi Mrs. Ruletta, memapahnya menjauh, ke sudut aula yang tersisa.

Hening.

Bahkan tak kudengar napas sesiapa.

Hanya Mrs. Ruletta yang perlahan duduk, merebahkan kepala. Gendongannya telah terlepas. Bayinya tertidur pulas.

Lalu terjadilah.

Tubuh Mrs. Ruletta menggelepar seperti ikan kekeringan; di sampingnya, mayat bayinya yang berusia satu tahun tergeletak. Bisik-bisik mulai kembali terdengar, pelan mendengung ketika mereka berdua diangkat pergi. Beberapa terlihat memalingkan wajah, seakan mencoba menghindari takdir yang mendekat di depan mata.

Aku merasakan bahuku diremas dari belakang. Lalu puncak kepalaku dikecup.

“Bibi Antonia, aku takut,” ucapku ragu.

Kembali Bibi Antonia meremas bahuku, kali ini sambil berbisik pelan, “Jangan takut, Sayang. Sebentar lagi kau akan bertemu orang tuamu. Bukankah itu yang selalu kau inginkan?”

Aku mengangguk. Menggigit bibir gemetar.

Antrean di depanku melangkah lagi. Aku mengikutinya perlahan meski kedua betisku berat dan mati rasa. Di keramaian aku mencari-cari wajah lain yang kukenal, namun temaramnya lampu di aula membuatku tak berhasil melakukannya.

Kemudian seseorang menggamitku.

Ernesto.

Bocah itu tersenyum lalu kembali ke barisannya, memamerkan senyumnya yang janggal. Tangannya mengayunkan seutas benang dengan sepotong gigi terikat di ujungnya. Aku menoleh pada Bibi Antonia.

“Bibi, apakah gigi Ernesto akan tumbuh di surga?”

Senyum Bibi Antonia merekah. Dia mengusap-usap rambutku. Semerbak wangi stoberi menguar. Tanpa bisa kutahan air mataku mengalir.

Selangkah lagi maju. Aku sesenggukan. Tak berani lagi mengangkat pandangan.

Kemudian di sana, gelas dan sedotan itu. Giliranku.


996 kata, di luar judul.
*Bonestown, terinspirasi dari nama kota Jonestown, Guyana. Sebuah kota kecil yang terkenal setelah pada 18 November 1978, lebih dari 900 orang meninggal dalam bunuh diri massal. Bunuh diri tersebut diinstruksikan oleh pemimpin kelompok keagamaan Jim Jones kepada para pengikutnya setelah kota tersebut mendapat kunjungan anggota kongres Amerika Serikat Leo Ryan, menyusul adanya keluhan terhadap aktivitas keagamaan sektenya. Leo Ryan beserta tim, tertembak dalam perjalanan pulang dari daerah Jonestown tersebut. Jim Jones mengajak pengikutnya bunuh diri dengan meminum racun sianida.

Originally posted in here 

Advertisements

One thought on “Bonestown*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s